Sistem Informasi Absensi Sekolah bisa dikatakan tergolong unik. Namun penerapan komputerisasi otomatis tidak mustahil untuk diterapkan asalkan beberapa kasus harus dapat dipecahkan, diantaranya :
1. Sistem bisa terhindar dari kasus pemalsuan
Misalnya saja titip absen. Untuk pola kartu masih dimungkinkan, untuk itu bisa digunakan scan retina mata atau pola fingerprint (sidik jari).
2. Sistem harus bisa selektif menentukan late keterlambatan
Mengingat mungkin ada guru yang mulai mengajar jam ke-3 atau ke-4 sampai dengan jam ke-7 sementara jam pelajaran di sekolah sampai jam ke- 10. Tentunya jika guru tersebut datang jam ke-2 belum dikatakan terlambat. Dan sebaliknya jika pulang jam ke-7 bisa dikatakan tidak mendahului, mengingat jam-nya hanya sampai jam ke-7 (terutama GTT).
3. Sistem harus bisa membedakan tanggal merah (selain hari minggu), misal hari libur bersama. Tanggal hitam tetapi libur, misalnya: libur khusus.
Selayaknya sistem tidak serta merta menganggap tidak masuk sekolah.
4. Sistem juga harus peka terhadap guru yang sedang tugas luar (penataran, pelatihan, seminar)
Tugas luar seringkali memakan waktu lama, misalnya menginap atau tempatnya jauh dari rumah dan tidak melewati sekolah. Mungkin tidak bisa ke sekolah untuk mengisi absen. Sungguh tidak adil jika hal ini dianggap tidak masuk. Karena tugas keluar juga untuk kepentingan sekolah.
5. Sistem juga harus peka kalau ada guru sakit
Penyakit datang begitu saja, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Apalagi tiba-tiba dan langsung opname beberapa hari, atau mungkin sampai hitungan bulan. Maka jika sistem tidak peka dan hanya mengandalkan print out-nya., sudah bisa dipastikan kita sakit bisa disamakan dengan meninggalkan tugas untuk waktu yang lama.
6. Sistem harus peka dengan lembur
Kata lembur, mungkin aneh di lingkungan sekolah. Tetapi perlu dipikirkan jika ada guru yang kerja melebihi waktunya. Guru juga manusia, perlu makan untuk mengimbangi pekerjaannya tersebut. Atau mungkin istirahat. Jadi bisakah sistem menghitung guru yang bersangkutan lembur (benar-benar lembur, karena bisa jadi hanya pulang belakangan karena belanja dulu, makan di kantin dulu, dan sebagainya). Atau karena bekerja saat ini lembur maka esok harinya ingin istirahat, dan lembur dianggap ganti dari pekerjaan esok harinya ?
Mungkin masih banyak lagi pertimbangan-pertimbangan untuk memakai komputerisasi absensi. Disamping harganya pastinya mahal, baik dari segi pengadaan dan perawatan serta operasionalnya. Juga dari segi sistemnya sendiri. Bisakah mengakomodir kasus-kasus diatas ? Tentunya harus semua kasus diatas terpenuhi.
Sebagai solusi yang dianggap fair, menurut saya :
- Menggunakan sistem komputerisasi yang benar-benar teruji. Mungkin perlu tahap trial terlebih dahulu sampai dikatakan sistem terhindar dari bug, dan tidak ada yang dirugikan.
- Tetap menggunakan sistem manual dengan catatan, yaitu ada karyawan yang mengabsen keliling di kelas-kelas untuk meminta tanda tangan kehadiran dengan keterangan datang awal berapa menit, pas, atau malah terlambat berapa menit (contohlah timer pada sepak bola, jika ada penghentian permainan karena ada yang cidera atau ganti pemain timer harus menambahkan extra time yang sama), pokoknya sampai detil agar tidak ada yang dirugikan dan sama-sama menyadari. Begitu pula dengan kasus-kasus yang lain seperti diatas. Tentunya karyawan ini dipilih karyawan yang jujur dan cerdas dalam menafsirkan kebijakan sehingga jika ada kasus-kasus baru bisa mengambil kebijakan yang masuk akal dan bisa diterima guru dan aturan yang lain (contohlah ijma’, sumber hukum untuk memutuskan kasus yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi). Yang paling penting adalah karyawan yang bisa dipercaya keberadaannya menjalankan tugas dan dalam tugasnya bisa peka dengan kasus-kasus diatas.
Lewat tulisan ini saya tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa, hanya kita memandang dari dua sisi, yaitu guru dan sekolah. Saya sadar manusia dan bahkan sistem (peraturan atau computer) tidak ada yang sempurna. Allah saja memberi keringan bagi hamba-Nya. Misal: Jamak sholat sampai Qosor (bisa diterapkan guru yang lembur untuk mengganti hari esoknya karena ada urusan lain). Namun ini juga sebagai tantangan bagi pekerja di bidang IT untuk menciptakan sistem yang bisa mengerjakan pekerjaan ini dengan baik (terbebas dari bug dan hacker).
Semoga bisa menjadi pertimbangan…..
Sumbangkan saran dan kritik Anda, karena saya hanya manusia biasa untuk menemukan solusi terbaik.