Awalnya setiap orang pasti memandang dengan penuh tanya ? Penuh curiga ? Tak lupa, disertai seribu tanya ? Dan bahkan cenderung menghakimi dengan style yang dimilikinya. Miris juga melihatnya, seorang cewek dengan perawakan kecil namun dengan seonggok beban di punggungnya. Bahkan ditambah dengan sepatu ber-”hak” tinggi. Seakan menambah penderitaan fisiknya. Tercengang mataku dibuatnya, saat kutahu Honda Tiger sebagai kuda besinya. Dari dulu takdir manusia tak pernah berubah. Selalu saja melihat sesuatu dari luarnya saja. Termasuk juga diriku.
Sering terdengar bunyi handphone saat kuliah di kelas. Nyaring sekali, bahkan sampai lupa handphone yang mana yang berbunyi. Aku sering berpikir “norak banget”. Maklum handphone yang dimilikinya ternyata banyak banget (kurang lebih 4). Layaknya counter berjalan saja. Tapi, aku tak pernah ambil pusing setelah terbiasa dengan kejadian demi kejadian yang terjadi. Bagiku, semua tak harus selalu seperti yang kita inginkan. Kadangkala empati kita harus terus diasah agar bisa melihat dengan bijak.
Lambat laun, asumsiku mulai berubah seiring aku mulai mengenalnya. Aku berpikir setiap orang berhak melakukan apa saja. Termasuk melanggar hukum sekalipun. Yang jelas, sadar akan sebab-akibat yang diperolehnya. Karena Allah saja, tetap mempersilakan hamba-hambanya kafir atau beriman selama di dunia. Namun harus sadar bahwa kelak akan dimintai tanggungjawab.
Aku sering berpikir wanita ini seperti preman, berhubung wanita jadi “premanwati”. Aku seringkali lupa dia seorang wanita, maklum seperti “terjebak dalam raga yang salah”. Karena jiwa dan raga yang tidak sinkron. Terlihat jelas dari bentuk olahraga yang diminati, keras semua. Karena mulai dari beladiri, panjat tebing, menyelam dan lain-lain. Masih didukung oleh tindak telinga yang tidak tanggung-tanggung 7. Pokoknya “ngeri”.
Busyettttt, tak kusangka aku diundang ke rumahnya. Walau bukan undangan istimewa sih. Biasa, service computer.Tapi, bagiku cukup untuk sedikit tahu sisi lain dari kehidupannya. Sekedar tahu aja, tak lebih !
Suatu ketika, saat di warnet. Terdengar bunyi handphonenya. Aku tak tahu pasti siapa dan apa yang telah terjadi padanya. Tiba-tiba raut mukanya menjadi muram. Hingga tetesan air mata mulai turun. Dia tak bisa mengelak. Tapi bagiku, itu urusan dia. Aku tak mau ikut campur. Atau masuk terlalu jauh dalam kehidupannya. Aku tak ingin persahabatanku hancur karena sikap ingin tahuku. Yang bisa kulakukan hanya berbisik dalam hati “Preman wati juga manusia, punya hati ! Tak bisa dipungkiri, batu yang keras sekalipun akan terkikis oleh tetesan air. Sisi lain mulai tampak …
Seringnya tegur sapa yang kami lakukan akhirnya, membuat hari-hariku dengannya semakin berwarna. Warna baru mulai menghias kehidupanku. Terkadang emas harus diperoleh di dasar bumi. Keindahan hati walau tertutupi tatap memancarkan cahayanya. Sahabat… terima kasih telah mengajakku mengenal dirimu. Sahabat… kamu nyentrik … tapi asyik.
Keren Boy…