Manusia sering melihat orang dari kulit luarnya saja. Aku yakin setiap manusia diciptakan dengan hati yang lembut. Kesombongan, tabiat keras-tidaknya seseorang hanyalah pengaruh luar saja. Yang kalau dijabarkan akan panjang sekali. Salah satunya, kondisi lingkungannya. Karena terkadang seseorang menjadi sosok yang sombong, keras hanya karena tuntutan pergaulan. Namun, Allah punya rahasia. Setiap manusia diciptakan berbeda apapun satu dengan lainnya. Tapi manusia lebih suka memakai topeng kebohongan supaya terlihat sempurna.
Kebanyakan orang menilai laki-laki adalah makhluk yang kuat. Tapi aku, menilai sebaliknya. Wanita itu adalah yang paling kuat. Karena wanita diamanahi rahim (penyayang). Rahim adalah bagian dari sifat Allah, yaitu Ar-Rahim (maha penyayang). Bukan sesuatu hal yang mudah memegang amanah Ilahi. Darinya bergantung lahirnya generasi bangsanya. Wanita dibekali air mata kekuatan. Dibalik tangis seorang wanita tersimpan kekuatan. Karena setiap doa yang mengalir dari mulutnya pastilah tak ada hijjab (jarak) bagi sang Kholik untuk mengabulkannya.
Sudah sepantasnyalah jika seorang laki-laki kuat, maka harus bisa melindungi wanita. Namun jika berlaku sebaliknya maka tak ada artinya dia diciptakan. Karena Hawa diciptakan dari tulang rusuk sang Adam. Kewajiban laki-laki adalah meluruskan tulang rusuknya yang mulai bengkok berlebihan. Karena suatu kemustahilan meluruskan tulang rusuk yang sudah ditakdirkan-Nya bengkok. Keberuntungan bagi laki-laki adalah mendapatkan wanita Sholihah, karena “Sebagian pintu surga itu sudah terbuka”. Setiap laki-laki yang menilai wanita Sholihah dari kulit luarnya akan menyesal dunia akherat, seperti kisah dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra”.
Dikecewakan, dibohongi dan sejuta kejadian yang membuat hati hancur adalah manusiawi. Semua orang tak ingin itu terjadi padanya. Memang, tak ada kewajiban meminta maaf. Yang ada adalah kewajiban memaafkan. Sungguh berat! Namun, sekali lagi surga firdaus telah diciptakan untukmu. Dan engkau kekal didalamnya. Itu janji Ilahi yang pasti. Seperti kisah Muhammad yang dilempar dengan batu oleh kaum di balik bukit Tursina. Niscaya, jika beliau mengiyakan permintaan Jibril maka disatukannya kedua bukit itu. Demi Allah, tak akan ada yang selamat. Namun Sang Rosul dengan kesucian hatinya berkata “Jangan, mereka berbuat seperti itu karena belum tahu”.
Aku bukan siapa-siapa. Hanya satu dari jutaan sperma yang berhasil membuahi sang telur. Terlahir telanjang… hidup … menunggu ajal. Setiap malam, kukatakan “Terima kasih Ya… Allah, atas nafas yang telah Kau berikan hari ini, berharap sang surya pengharapan masih bisa kulihat bersinar esok hari. Hidup sekali langkahkan kaki dengan pasti, mencari segudang pengalaman berarti. Yakinkan hati “Kun Fa Yakun” dalam sisa hidup. Lihat Neil Amstrong ke bulan, hingga Sang Pungguk pun cemburu di buatnya. Lihat dan dengarkan…Hati Nuranimu menyapa.